Artikel
Judul : Perbandingan Metode Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution Dan Simple Additi
Abstrak : Abstrak- Kesulitan belajar merupakan permasalahan yang banyak ditemui dalam pendidikan sekolah dasar. Siswa yang berkesulitan belajar mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas akademiknya khususnya dalam pelajaran berhitung. Dalam penentuan siswa berkesulitan belajar berhitung, tidak jarang guru mengalami kesulitan dikarenakan kriteria yang digunakan hanya menggunakan hasil nilai belajar siswa tanpa mengetahui kemampuan kognitif siswa, sehingga penilaian masih menggunakan dugaan. Sebagai salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memudahkan identifikasi yaitu dengan memanfaatan teknik pengambilan keputusan yang dapat digunakan oleh pihak-pihak yang tidak memiliki kompetensi dalam deteksi dini anak kesulitan belajar berhitung, sehingga hasil penilaian dapat tepat sasaran dan guru dapat memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya. Metode yang digunakan adalah Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) dan Simple Additive Weighting (SAW). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode terbaik dan membantu memilih alternatif terbaik. Dalam penelitian ini akan dilakukan pengukuran kecepatan respon dan akurasi metode TOPSIS dan SAW. Dari hasil perbandingan menggunakan 22 data sampel dengan 5 pengujian diperoleh bahwa metode SAW lebih cepat dalam mengelola data dengan rata-rata kecepatan 1,6214 detik, sedangkan TOPSIS memperoleh 2,4986 detik. Sedangkan untuk tingkat akurasi, metode TOPSIS memperoleh nilai akurasi 100% dan metode SAW memperoleh 13%. Dari hasil kedua metode, metode TOPSIS dipilih sebagai metode terbaik pada penentuan siswa inklusi inklusi kesulitan belajar berhitung.
Penulis : Trisna Yulianti P
Keyword : Kesulitan Belajar, Berhitung, TOPSIS, SAW.
Referensi : [1] E. Husnul Khairun Nisa, Larasati, M. Sidiq Nur, and N. Islami, “Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah,” 2017. [2] dr. E. Heryati, “Ruang Lingkup Asesmen Perkembangan,” pp. 1–14, 2009. [3] F. Ramadhan Diniya, “Laporan Identifikasi Anak Berkesulitan Belajar,” pp. 1–59, 2013. [4] Hermanto, KEMAMPUAN GURU DALAM MELAKUKAN IDENTIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH DASAR PENYELENGGARA PENDIDIKAN INKLUSI. 2010. [5] D. T. Sundari, M.Pd and D. M. Aburahman S. M.P.d, “Bahan Belajar Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus,” pp. 1–95, 2013. [6] H. V. Brahmantyo et al., “Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Tanaman Obat Sesuai Jenis Penyakit Menggunakan Metode TOPSIS,” vol. 2, pp. 66–71, 2016. [7] Fatkhurrochman and D. Astuti, “Analisis Perbandingan Metode TOPSIS dan SAW Dalam Penentuan Penerima Bantuan Pembangunan Rumah Masyarakat Kurang Mampu,” pp. 67–72, 2018. [8] H. Tamando Sitohang and M. Santauli Siboro, “Aplikasi Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Siswa Bermasalah Menggunakan Metode Saw Pada Sekolah Smp Swasta Mulia Pratama Medan,” vol. 1, no. 1, pp. 1–6, 2016. [9] L. Lestari, Novia, Lhaura Van FC, “Sistem Penunjang Keputusan Penetapan Siswa Inklusi Kesulitan Belajar Di Sekolah Dasar Menggunakan AHP,” Teknol. Inf. dan Komun. Digit. Zo., vol. 9 No.1, pp. 71–81. [10] D. Purnomo, “Model Prototyping Pada Pengembangan Sistem Informasi,” vol. 2, no. 2, pp. 54–61, 2017. [11] I. Muzakkir, “Penerapan Metode Topsis Untuk Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Keluarga Miskin Pada Pesa Panca Karsa II,” Ilk. J. Ilm. Vol. 9 Nomor 3 Desember 2017, vol. 9, pp. 274–281, 2017. [12] S. Hendartie, “Metode Saw Dan Topsis Dalam Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Calon Dosen Stmik Palangkaraya,” pp. 126–137. [13] S. Lailiyah, Salmon, and N. Haeda, “Sistem Pendukung Keputusan Menentukan Anak Asuh Pena Prestasi Menggunakan Metode Saw ( Simple Additive Weighting ) Pada Lembaga Amil Zakat Dana Peduli Ummat,” pp. 25–30, 2016. [14] F. Army Bintoro, “Jurnal Pendidikan Khusus Prevalensi Anak Kesulitan Berhitung Di SD?: Asesmen Matematika Berbasis Kurikulum,” Pendidik. Khusus, pp. 1–10, 2016.
File :